PESANTREN HASYIM ASY'ARI JEPARA SELENGGARAKAN DIALOG NUKLIR
JEPARA - Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara menyelenggarakan Dialog Publik dan Seminar Nasional yang bertemakan tentang bahaya nuklir, Sabtu (20/3/2010) malam. Dialog ini dihadiri oleh ratusan santri, mahasiswa dan masyarakat sekitar pesantren yang didirikan oleh almaghfurlah KH M Amin sholeh ini. Acara ini terselenggara berkat kerja sama antara KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Jepara, KTNA Jawa Tengah dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sehati Nusantara yang berkedudukan di Jakarta. LSM ini menerjunkan tujuh personel andalannya yang di Ketuai Erman Daulay.
Acara yang berlangsung di halaman pesantren mantan rais syuriah PWNU Jawa Tengah ini, cukup meriah. Pasalnya, semua santri putra dan putri nampak memenuhi halaman. Selain itu, sebelum acara dimulai, para santri yang tergabung dalam group rebana pesantren ikut memeriahkan acara yang digelar di luar ruangan (outdoor) itu. Uniknya, tim rebana menciptakan shalawat khusus untuk menolak pendirian PLTN.
Dalam sambutannya selaku pengasuh pesantren, KH Nuruddin Amin mengatakan sangat berbahagia dan menyambut positif atas terselenggranya kerja sama ini. Karena masyarakat ketiga kabupaten memang butuh advokasi dari LSM terkait rencana pemerintah mendirikan PLTN yang sedianya didirikan di semenanjung Muria di sebelah barat desa Balong kecamatan Kembang, 10 kilometer timur kota Jepara. “Kami sebagai perwakilan masyarakat Jepara, menolak rencana pendirian PLTN di Balong, karena berdampak kurang baik di masyarakat sekitar,” ujar Kiai yang akrab disapa Gus Nung ini.
Sebagai pembicara pada dialog dan seminar nasional, Dr Iwan Kurniawan, pakar nuklir dari Jakarta dan Siti Yamroh Su’udi, ketua KTNA Jawa Tengah. Hadir juga pada acara tersebut para mahasiswa Institut Islam Nahdlatu lUlama (INSNU) Jepara. Dalam kesempatan itu hadir pula masyarakat sekitar pesantren yang sangat antusias mengikut acara hingga selesai.
Pada Minggu (21/3/2010), masyarakat mengelar temu dialog di Balai Desa Balong, Jepara. Dalam kesempatan ini, puluhan warga meneriakkan yel-yel penolakan terhadap pembangunan PLTN di daerah itu. Dengan segala upaya dan cara mereka akan mempertahankan wilayah mereka dari pembangunan PLTN. Dr Iwan menilai proyek PLTN berbahaya dan mahal. Pembangunan PLTN yang sedianya didirikan di semenanjung Muria di sebelah barat desa Balong kecamatan Kembang Kabupaten Jepara memerlukan waktu delapan tahun. Jika Presiden SBY mengeluarkan kebijakan mendirikan PLTN ini maka biaya yang dikeluarkan sangat mahal. Belum lagi akibatnya yang sangat berbahaya bagi masyarakat sekitar jika terjadi kebocoran instalasi. Indonesia, kata Iwan, memiliki banyak kandungan alam yang bisa digunakan sebagai pembangkit listrik. Misalnya, batubara, minyak bumi, gas, kelapa sawit dan lain-lain. Selain murah, kekayaan alam tersebut tidak berdampak buruk bagi masyarakat dan bumi sebagaimana nuklir. “Anehnya, Batan, Bapeten, Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek RI) yang oleh undang-undang tidak diperbolehkan dalam pengoperasian PLTN komersial, saat ini malah menjadi yang paling getol mempromosikan pendirian pembangkit (PLTN-red) itu,” ujar Iwan.
Republik ini, lanjut Iwan, kaya dengan energi. Jika pemerintah bijaksana, maka ia akan mengurangi ekspor energi, kemudian diprioritaskan untuk pasokan dalam negeri. “PLTN itu kan hanya memiliki satu manfaat saja, yaitu menghasilkan listrik. Selain itu tidak. Jadi, mending kita pakai (zat) yang lain,” tegas doktor jebolan Nuclear Physics Experiments Tsukuba Jepang ini.
Sementara itu, perwakilan mahasiswa INISNU Muhammad Rifa’i mengatakan, para mahasiswa tidak setuju rencana pendirian PLTN di semenanjung Muria. “Kami sangat menolak rencana itu, karena lebih banyak negatifnya daripada positifnya. Itu yang pertama. Yang kedua, demi kelestarian alam dilingkungan kabupaten Jepara,” ujar mahasiswa Tarbiyah semester delapan ini.
Di tempat yang sama, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Provinsi Jawa Tengah Siti Amroh Suudi menyatakan, pembangunan PLTN bisa mengancam ketahanan pangan nasional. Karena proyek itu akan menyita banyak lahan pertanian. Dia mencontohkan rencana pembangunan PLTN di Semenanjung Muria, Jepara, Jawa Tengah. Jika pembangunan PLTN itu tetap dilaksanakan, bisa mengusik ribuan hektare lahan pertanian. Padalah, Jawa Tengah merupakan salah satu daerah penopang pangan nasional. ”Hampir 99 % warga di sana itu petani. Kalau jadi dibangun,selain risiko kebocoran radioaktif, juga mengancam kelangsungan hidup petani. Jadi rencana ini harus dibatalkan,” tegasnya.
Menurut dia, PLTN bukan satu-satunya jawaban untuk memenuhi pasokan listrik di Tanah Air. “Masih banyak alternatif lain, seperti energi panas bumi, sampah, biofuel, matahari, dan angin yang tidak ada habisnya,” katanya. (*)
Humas Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara
Thomas, 08888582394







